Tanaman kimpul (Xanthosoma sagittifolium)

Write on Kamis, 22 Aug 2019 by: fikri

Tanaman kimpul (Xanthosoma sagittifolium)

Tanaman kimpul (Xanthosoma sagittifolium) merupakan makanan pokok alternatif di berbagai daerah Indonesia, baik dengan cara dikonsumsi langsung dengan cara dikukus, dipanggang, atau direbus. Tanaman kimpul termasuk salah satu komoditas sebagai sumber karbohidrat yang sampai sekarang masih belum mendapat perhatian baik dalam pembudidayaan atau dalam proses pengolahan. Kandungan karbohidrat dalam kimpul berkisar antara 70-80% (Kusumo dkk, 2002)

Taksonomi kimpul dapat diklasifikan sebagai berikut (Rukmana, 1998):

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermathophyta

Subdivisio : Angiospermae

Kelas : Monocotyledone

Ordo : Arales

Famili : Aracae

Genus : Xanthosoma

Spesies :Xanthosoma sagittifolium

Ukuran dan bentuk kimpul bergantung pada jenis bahan tanam dan juga faktor ekologi, terutama karakteristik tanah. Di daerah dataran tinggi biasanya kimpul berbentuk bulat agak memanjang. Tanaman ini terdiri dari tiga bagian utama, yaitu kulit, korteks, dan inti. Kulitnya halus, berserat dan tertutup oleh sisik.

Tanaman ini dapat tumbuh hingga dua meter atau lebih. Daunnya berbentuk seperti anak panah, tebal, dan tangkai daunnya panjang. Panjang tangkainya bias mencapai dua meter atau bahkan lebih, dengan bilah yang panjangnya mencapai satu meter hingga lebar 0,7 meter (Lebot, 2009).

Permasalahan yang terjadi dalam pemanfaatan umbi kimpul adalah kurangnya aplikasi produk dengan bahan dasar kimpul. Umbi kimpul merupakan salah satu komoditas sumber karbohidrat yang sampai sekarang kurang mendapat perhatian baik pembudidayaan maupun dalam proses pengolahan tepungnya. Umbi Kimpul merupakan komoditi holtikultura yang mudah mengalami kerusakan mikrobiologis, karena kandungan air yang cukup tinggi yaitu 63.1 gram dari total kimpul mentah. Selain itu, terdapat senyawa antigizi berupa kalsium oksalat yang dapat menimbulkan rasa gatal, sensasi terbakar dan iritasi pada kulit, mulut, tenggorokan dan saluran cerna pada saat dikonsumsi (Ayu dkk, 2014).

Konsentrasi asam oksalat dalam dosis tinggi bersifat merusak karena dapat menyebabkan gastroenteritis, shok, kejang, rendahnya kalsium plasma, tingginya oksalat plasma dan kerusakan jantung. Efek kronis yang dapat disebabkan jika mengkonsumsinya yaitu terjadi endapan kristal kalsium oksalat dalam ginjal dan mebentuk batu ginjal (Bradbury and Halloway, 1988). Adapun dosis yang dapat menyebabkan efek kronis adalah antara 10-15 gram (Noor,1992). Sedangkan pada umbi kimpul kalsium oksalat yang terkandung masih dibawah titik aman yaitu 1.83 mg dalam 100 gram bahan (Ayu dkk, 2014).

Seluruh bagian dari tanaman kimpul mengandung senyawa kristal kalsium oksalat mulai dari daun, tangkai daun, umbi sampai akar umbi. Sehingga bila terjadi kontak antara daun, tangkai, dan umbi segar dengan kulit akan menyebabkan rasa gatal. Rasa gatal itu muncul dikarenakan kristal oksalat terbebaskan dari tanaman dan masuk kedalam kulit saat kontak langsung. Dalam penanganannya kalsium oksalat dapat dihilangkan dengan cara sebagai berikut :

  1. Secara Fisik

Yaitu penghilangan senyawa oksalat yang terdapat pada umbi dengan cara perebusan dengan api yang besar sampai kulitnya dapat dikelupas (Hetterscheid,1996). Putjaatmaka (1986) menyatakan bahwa asam oksalat dapat tersublimasi dengan cara pemanasan pada suhu 149-160°C.

  1. Secara Mekanis

Penghilangan senyawa oksalat secara mekanis dapat dilakukan dengan menggunakan Stamp Mill dan Blower. Prinsip kerja Stamp Mill adalah penumbukan. Menumbuk memiliki arti yang sama dengan menekan, menghancurkan suatu bahan menjadi partikel berukuran lebih kecil. Bahan pangan dihancurkan atau dihaluskan untuk mengekstrak komponen bahan pangan dari matriks bahan pangan utuh yang lebih kecil. Sedangkan prinsip kerjaBloweradalah metode hembusan menggunakan aliran udara yang bergerak untuk memisahkan kontaminan dari bahan campuran kering berdasarkan perbedaan ukuran. Prinsip kerjaBlowermirip dengan pemisahan siklon yang telah diaplikasikan secara luas untuk menghilangkan padatan dari udara atau cairan dari uap. Metode hembusan atauBlowerdigunakan secara luas pada mesin pemanen untuk memisahkan kontaminan yang berat dan ringan dari butiran (Fellows,1990).

  1. Secara Kimiawi

Penghilangan kalsium oksalat secara kimiawi dengan menggunakan garam dapur. Selama penggaraman akan terjadi proses osmosa yaitu air dalam jaringan bahan akan ditarik oleh larutan garam (hipertonik), sedangkan ion Na+ dan Cl- masuk dalam jaringan. Mekanisme penurunan kadar oksalat oleh garam disebabkan penarikan sel karena perbedaan potensial. Perbedaan potensial yang besar menyebabkan efek osmosis yang besar pula (Rahmawati,1993).

Menurut Shakti (2008) untuk memperoleh kadar oksalat yang rendah dapat dilakukan dengan cara pencucian sampai bersih selama 5 menit dengan perbadingan umbi dan air 1:4. Selanjutnya direndam selama 20 menit menggunakan NaCl 1% setelah itu dicuci kembali dengan air. Hal ini berfungsi untuk menghilangkan zat-zat pengotor. Penurunan kadar kalsium oksalat terjadi dikarenakan garam yang terlarut dalam air terurai menjadi ion Na+ dan Cl- . Ion Na+ menarik ion-ion yang bermuatan negatif dan ion Cl- menarik ion-ion yang

bermuatan positif.mengikat Ca2+ membentuk endapan putih kalsium diklorida (CaCl2) yang mudah larut dalam air. Waktu pengikatan ini adalah 20 menit. Umbi dicuci dan direndam dalam air kembali untuk menghilangkan sisa garam mineral dan endapan yang kemungkinan masih menempel pada umbi. Kresnawati (2010) mengungkapkan bahwa talas yang direndam menggunakan garam dapur memiliki kandungan oksalat 0,22%.

Dalam dunia industri penggunaan tepung sebagai bahan baku industri pangan atau industri lain meningkat setiap tahunnya. Pemanfaatan umbi-umbian lokal sebagai tepung dapat menjadi alternatif dengan mengetahui sifat fisik kimia dan karakteristiknya, sehingga kimpul dapat diolah menjadi tepung yang dapat diaplikasikan menjadi beragam produk makanan. Kimpul dapat digunakan untuk membuat berbagai jenis makanan ringan, seperti krupuk, kripik, stick, perkedel, emping, atau bahkan hanya direbus saja. Bobot dari kimpul yang dapat digunakan adalah 80% per 100 gram serta menghasilkan energi sebesar 145 Kal. Kandungan gula dan lemaknya yang cukup rendah membuat kimpul cocok dikonsumsi oleh pasien dengan diabetes, jantung osteoporosis dan hipertensi. Kimpul juga baik untuk kesehatan gigi karena memiliki sifat basa sehingga tidak merusak gigi (Minanto dkk, 2014). Tabel di bawah ini akan menunjukkan kandungan gizi pada umbi kimpul :

TabelKandungan Gizi Umbi Kimpul per 100 gram Berat Bahan.

No

Komponen Gizi

Jumlah (%)

1

Protein

2.81

2

Lemak

0.08

3

Air

67.26

4

Abu

1.19

5

Karbohidrat

28.66

6

Pati

20.87

7

Serat Kasar

0.56

8

Serat Pangan Larut Air

1.31

9

Serat Pangan Tidak Larut Air

6.93

10

PLA (Polisakarida Larut Air)

0.99

11

Diosgenin (mg/100g bahan)

0.00083

Sumber : Jatmiko (2013).

 

Pada KWT Beruntung Barokah tanaman ini tumbuh subur dan melimpah, mengingat mudah di kembangkan membuka peluang ibu-ibu KWT untuk dapat menolah hasil dari tanaman ini sebagai nilai tambah dalam 1 bongkah dapat menghasilkan sampai 10 KG. potensi inilah yang akan difokuskan untuk kegiatan KWT kedepan.

Share: Share on Google+ Print: Category: Pertanian

Tanaman kimpul (Xanthosoma sagittifolium)

Tanaman kimpul (Xanthosoma sagittifolium) Tanaman kimpul (Xanthosoma sagittifol

PEMUPUKAN PADA TANAMAN JAGUNG

Program peningkatan produksi jagung melalui varietas unggul harus dibarengi deng

PENGEMBANGAN PADI BEBAS RESIDU

Penggunaan pestisida kimia memang dapat menyelamatkan pertanaman padi dari kegag